29 C
Jakarta
Thursday, July 18, 2024

Tips Menjaga Kesehatan Jemaah Batuk Pilek saat Puncak Haji – Sehat Negeriku

Pada tanggal 14 Juni 2024 di Jakarta, banyak jemaah haji mengalami batuk pilek di tengah cuaca panas yang terik di Arab Saudi. Hal ini menjadi perhatian penting, terutama ketika memasuki puncak haji yang melibatkan perjalanan jemaah ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Para jemaah haji disarankan untuk menjaga kesehatan tubuh mereka agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Liliek Marhaendro Susilo, Ak M.M., mengimbau para jemaah untuk terus minum air putih setidaknya 200 ml per jam, termasuk bagi mereka yang sedang mengalami batuk pilek. Air putih dapat dicampur dengan oralit untuk membantu rehidrasi tubuh.

Meskipun jadwal ibadah haji di puncak musim sangat padat, jemaah diingatkan untuk tidak melewatkan waktu makan dan istirahat yang cukup. Jika merasa tidak sehat, jemaah sebaiknya segera menghubungi petugas kesehatan di kloter masing-masing.

“Jangan lupa minum air putih 200 ml per jam. Bisa ditambahkan oralit. Makan makanan bergizi yang disediakan panitia dan cukup istirahat 6-8 jam per hari,” pesan Liliek di Jakarta pada Jumat (14/6).

Kebutuhan akan obat-obatan, seperti obat flu yang sangat dibutuhkan oleh jemaah haji, masih tersedia di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan stok obat yang dibawa oleh petugas kesehatan. Kemenkes RI terus memantau dan memastikan ketersediaan obat yang diperlukan untuk penanganan jemaah haji.

Bagi jemaah haji yang sakit dan tidak dapat pergi ke Arafah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menyediakan layanan safari wukuf. Safari wukuf ini disediakan untuk jemaah yang sedang dalam perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

KKHI Makkah menyiapkan 10 bus, 4 unit untuk jemaah berbaring dengan kapasitas 6-8 orang, dan 6 unit bus dengan kapasitas 25 orang untuk penyelenggaraan safari wukuf.

Safari wukuf juga diberikan kepada jemaah lansia yang tidak mandiri yang difasilitasi oleh Bidang Layanan Lansia dan Disabilitas Kementerian Agama RI.

Selama penyelenggaraan safari wukuf, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan untuk jemaah dengan risiko kesehatan yang tinggi.

“Tujuannya adalah untuk menyaring jemaah mana yang perlu disafariwukufkan, mana yang dapat bergabung dengan rombongan kloternya. Ada proses penyaringan untuk melihat apakah jemaah tersebut membutuhkan safari wukuf, atau dapat bergabung dengan rombongannya, atau mungkin dibadalkan,” jelas Liliek.

Proses safari wukuf melibatkan keberangkatan jemaah ke Arafah dengan pendampingan oleh petugas. Jemaah melaksanakan salat Zuhur yang digabungkan dengan Ashar, kemudian mendengarkan khutbah wukuf di dalam bus masing-masing.

“Setelah prosesi wukuf selesai, jemaah dibawa kembali ke KKHI. Jemaah safari wukuf yang sakit tidak diizinkan bermalam di Muzdalifah, melontar jumrah, dan tahapan haji berikutnya akan ditangani oleh petugas,” lanjut Liliek.

Selama puncak haji, pemantauan kesehatan jemaah haji terus dilakukan secara intensif oleh petugas kesehatan, khususnya bagi mereka yang berisiko tinggi. Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) terus memantau jemaah dengan riwayat penyakit seperti hipertensi dan diabetes.

“Di setiap kloter terdapat satu dokter dan dua perawat yang bertugas memantau kesehatan jemaah. TKHK secara khusus memantau 30 jemaah yang berisiko tinggi dan memastikan jemaah yang memiliki risiko berat agar dapat ditangani secara khusus,” jelas Liliek.

Untuk memudahkan akses layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia, tim petugas kesehatan disiagakan di berbagai titik lokasi sepanjang rangkaian ibadah haji.

“Tim petugas kesehatan tersebar di setiap kloter. Di setiap kloter, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat satu dokter dan dua perawat,” urai Liliek.

“Selain itu, di Arafah, terdapat Pos Kesehatan Arafah dan 6 pos kesehatan satelit. Juga, di Muzdalifah, terdapat 11 pos kesehatan. Terakhir, di Mina, terdapat Pos Kesehatan Mina dan 5 pos Jamarat atas.”

Untuk penanganan kegawatdaruratan selama puncak haji yang melibatkan perjalanan jemaah ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), telah disiapkan dengan matang. Selain tiga TKHK yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat, tim kesehatan juga berjaga di Arafah, dengan Pos Kesehatan Arafah sebagai pusatnya dan dibantu dengan 6 pos kesehatan satelit.

“Apabila terjadi kegawatdaruratan di kloter, TKHK dapat memberikan penanganan kesehatan. Jika diperlukan penanganan lebih lanjut, triase merah, TKHK dapat menghubungi Tenaga Emergensi Medis Sektor (TEMS) di Pos Satelit untuk bantuan penanganan dan rujukan menggunakan ambulans ke RS East Arafah,” ungkap Liliek.

Berita ini disampaikan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, dan alamat email [email protected].

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik,
Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.

Source link

berita terkait

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Berita Terbaru