27.4 C
Jakarta
Monday, July 15, 2024

Penemuan Jenis Baru Cacar Monyet dan Peringatan Ahli tentang Potensi Pandemi

Jakarta, CNBC Indonesia – Penyakit cacar monyet atau mpox jenis baru yang muncul di Republik Demokratik Kongo, Afrika disebut berpotensi menjadi ancaman besar bagi kesehatan dunia jika tidak segera diatasi.

Melansir dari Euronews, Republik Demokratik Kongo sebenarnya sudah “bergulat” dengan wabah besar penyakit cacar monyet sejak September 2023. Namun, beberapa waktu belakangan penyakit ini telah mencapai tingkat krisis.

Tingkat krisis itu terjadi karena virus baru yang mematikan ini mampu menyebar tanpa kontak seksual dan tak terdeteksi tes diagnostik. Dilaporkan, saat ini jumlah kasusnya telah mencapai rekor tertinggi dan vaksin tidak dapat diakses secara luas.

Pada 2024 ini, delapan negara di Afrika telah melaporkan sekitar 9.600 kasus diduga cacar monyet mpox dan lebih dari 400 kasus meninggal. Anak-anak di bawah 15 tahun disebut menjadi penyebab sebagian besar infeksi dan kematian baru pada 2024 ini.

Sejauh ini, hampir seluruh kasus terjadi di Republik Demokratik Kongo. Namun, para pejabat kesehatan menyebut bahwa jenis virus baru ini mungkin sudah menyebar ke luar negeri dan keseluruhan kasus kemungkinan besar tidak dilaporkan karena pengujian dan pengawasan yang tidak tepat.

Tanpa langkah-langkah mitigasi, penyakit cacar monyet dapat menyebabkan lebih banyak penyakit, kematian, dan menyebar ke luar Afrika Tengah.

“Ada kemungkinan besar virus ini berpindah tempat,” kata pimpinan teknis dan manajer darurat penyakit cacar monyet dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Rosamund Lewis, dikutip Jumat (5/7/2024).

Pada 2022 lalu, penyakit cacar monyet sempat menjadi krisis global, yakni saat kasusnya merebak di kalangan lelaki seks dengan lelaki (LSL) serta biseksual di Eropa dan Amerika Utara.

Hal ini menandai pertama kalinya penularan berkelanjutan yang teridentifikasi di luar Afrika Barat atau Tengah, yaitu saat virus ini telah menjadi endemik selama beberapa dekade di sejumlah negara.

Adapun, strain yang menyebabkan wabah global pada 2022 adalah Clade II yang sering ditemukan di Afrika Barat. Clade II diklaim tidak mematikan, seperti Clade I yang umum terjadi di Kongo dan memiliki tingkat kematian sekitar 10 persen.

Adapun, jenis penyakit cacar monyet terbaru ini merupakan cabang dari Clade I yang pertama kali muncul pada tahun lalu di kalangan penambang dan pekerja seks di kota Kamituga di Kongo timur.

Menurut Lewis, beberapa waktu belakangan ini jenis virus baru cacar monyet telah ditemukan di kamp-kamp pengungsi internal. Tidak hanya melalui hubungan seks, penyakit dari virus baru ini menyebar melalui kontak pribadi yang dekat.

Dengan demikian, penyakit cacar monyet jenis baru ini mampu mempengaruhi kelompok orang yang lebih luas sehingga lebih sulit untuk dilacak dan dicegah penyebarannya. Bahkan, para peneliti menyebut jenis baru ini berpotensi menjadi pandemi.

“Jika wabah ini tidak segera dikendalikan, hal ini pasti dapat menimbulkan risiko bagi seluruh dunia,” penasihat senior direktur jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, Nicaise Ndembi.

Pada 2022 lalu, otoritas kesehatan mengendalikan wabah global melalui distribusi vaksin dan pengobatan antivirus yang ditargetkan, serta melakukan sosialisasi kepada komunitas berisiko.

Lalu pada Februari 2023, hampir 337 ribu dosis vaksin telah diberikan di Uni Eropa, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia.

Namun, terdapat kendala terhadap pendekatan di Kongo dan wilayah yang lebih luas. Sebab, stigma terkait dengan penyakit cacar monyet cukup tinggi dan akses terhadap vaksin dan pengobatan disebut kurang memadai.

Ada tiga vaksin mpox yang tersedia secara global, tetapi Kongo baru memberikan otorisasi darurat untuk menggunakan dua di antaranya pada pekan lalu.

Dilaporkan, Kongo memiliki sistem yang lemah dalam menyetujui produk medis dan WHO tidak mengakui regulator obat-obatan di Kongo sebagai “badan pengatur yang ketat”.

Ahli vaksinologi di Universitas Witwatersrand di Afrika Selatan, Dr Nelson Aghogho Evaborhene menambahkan bahwa beberapa negara kekurangan “sumber daya teknis dan dama” yang diperlukan untuk mengevaluasi obat-obatan sehingga bergantung pada WHO, kelompok kesehatan global lainnya, dan regulator negara lain untuk mengevaluasi obat-obatan.

Selain itu, pembuatan vaksin dalam negeri juga hampir tidak ada sehingga Kongo dan sebagian besar wilayah di kawasan ini bergantung pada sumbangan dosis dari negara lain. (rns/rns)

Source link

berita terkait

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Berita Terbaru