29 C
Jakarta
Wednesday, July 17, 2024

Mengapa Ilmuwan Ketakutan Membuka Kuburan Kaisar Pertama China?

Kekayaan sejarah China telah menarik minat ilmuwan selama lebih dari satu abad. Salah satunya adalah makam kaisar pertama yang telah berumur lebih dari 2.000 tahun.

Namun, membuka makam ini menjadi tantangan bagi para ilmuwan. Bahkan, ketakutan besar mengemuka membayangkan membongkar makam tersebut.

Lalu, mengapa muncul ketakutan di kalangan ilmuwan?

Sebelum mengetahui penyebabnya, menarik untuk dibahas sejarah penemuan makam yang menjadi salah satu temuan arkeologi terpenting sepanjang sejarah tersebut. Hal ini bermula pada tahun 1974 silam, di sebuah ladang sederhana di Provinsi Shaanxi, China, seorang petani menemukan sebuah situs arkeologi penting. Siapa sangka, penggalian arkeologi di lokasi tersebut menemukan istana milik Qin Shi Huang, kaisar pertama China, yang terkenal dengan ratusan patung prajurit dari tanah liat dan kuda perang seukuran aslinya, termasuk patung pejabat terhormat, dan hewan lainnya. Tampaknya, patung tentara ini dibuat untuk menjaga makam Qin Shi Huang, penguasa dinasti Qin yang memerintah dari tahun 221 hingga 210 SM.

Menurut para arkeolog, istana sang kaisar terkubur sekitar 690 meter dari permukaan tanah dengan luas lebar area sebesar 250 meter. Diperkirakan, ini adalah kompleks istana terbesar yang pernah ditemukan. Area kompleks kaisar ini diperkirakan sebesar 56 kilometer persegi.

Namun sayangnya, penemuan tersebut tidak dieksplorasi lebih dalam oleh para arkeolog. Mengutip IFL Science, meski sebagian besar pekuburan kuno yang mengelilingi mausoleum telah dieksplorasi, makam kaisar sendiri tidak pernah dibuka walau ada banyak misteri yang mengelilinginya.

Alasan utama di balik ketakutan ini adalah karena para arkeolog khawatir tentang bagaimana penggalian bisa merusak makam sehingga kehilangan informasi sejarah yang penting. Saat ini, hanya teknik arkeologi invasif yang dapat digunakan untuk memasuki makam. Teknik tersebut berisiko tinggi menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Salah satu contoh paling jelas dari hal ini bisa dilihat dari penggalian Kota Troy pada tahun 1870-an oleh Heinrich Schliemann. Arkeolog yakin mereka tidak ingin gegabah dan membuat kesalahan yang sama lagi.

Para ilmuwan telah melontarkan gagasan untuk menggunakan teknik non-invasif tertentu untuk melihat ke dalam makam. Salah satu idenya adalah memanfaatkan muon, produk subatomik dari sinar kosmik yang bertabrakan dengan atom di atmosfer bumi, yang dapat mengintip melalui struktur seperti sinar-X. Namun, sepertinya sebagian besar proposal ini lambat untuk diluncurkan.

Parit penuh racun merkuri menjadi alasan lain mengapa para arkeolog enggan menjelajahi makam itu. Hal itu kemungkinan besar akan sangat berbahaya, menurut sampel tanah di sekitar makam, yang menunjukkan tingkat kontaminasi merkuri yang sangat tinggi. Merkuri diyakini oleh orang China kuno bisa membuat mereka mencapai keabadian.

Dalam sebuah catatan yang ditulis oleh sejarawan Tiongkok kuno Sima Qian sekitar 100 tahun setelah kematian Qin Shi Huang, dia menjelaskan bahwa makam itu terhubung dengan jebakan yang dirancang untuk membunuh setiap penyusup. “Istana dan menara indah untuk seratus pejabat dibangun, dan makam itu dipenuhi dengan artefak langka dan harta karun yang luar biasa. Pengrajin diperintahkan untuk membuat busur dan anak panah yang disiapkan untuk menembak siapa saja yang memasuki makam. Merkuri digunakan untuk mensimulasikan seratus sungai, Yangtze dan Sungai Kuning, dan laut besar, dan diatur untuk mengalir secara mekanis,” paparnya.

Untuk saat ini, makam Qin Shi Huang tetap utuh dan tidak terlihat. Namun, jika waktunya tepat, mungkin saja kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya bisa menggali rahasia yang telah tersimpan di dalam makam misterius berusia sekitar 2.200 tahun tersebut.

Source link

berita terkait

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Berita Terbaru