28.4 C
Jakarta
Wednesday, July 17, 2024

Makam Seniman dan Ulama Nyai Ireng di Pengkol Ledok Kulon Ternyata

Nyai Ireng: Ulama Perempuan yang Melakukan Dakwah Melalui Seni

Di pemakaman Islam Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro terdapat makam Nyai Ireng, yang berada dalam satu kompleks dengan Mbah Andongsari. Meskipun begitu, sedikit yang mengetahui siapa sebenarnya sosok yang terdapat di nisan Nyai Ireng.

Nyai Ireng merupakan seorang ulama perempuan yang melakukan penyebaran agama Islam di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo. Ia menjalankan dakwah dengan pendekatan seni, melalui pertunjukan Kentrung dan Sandur. Kehidupannya diperkirakan berada pada sekitar tahun 1700 M.

Menurut penelusuran jurnalis dari beritajatim.com, Nyai Ireng adalah bagian dari jajaran ulama yang melakukan dakwah di sepanjang Sungai Bengawan Solo bersama dengan Kiai Sadipo Sranak (Desa Sranak Kecamatan Trucuk), Kiai Singoleksono Pengkol, dan Nyai Nadipah Tulung (Desa Tulung Kecamatan Trucuk).

Seorang pemerhati sejarah dari Kasepuhan Padangan Kabupaten Bojonegoro, W Rizkiawan, menyatakan bahwa Nyai Ireng merupakan bagian dari ulama yang menjalankan dakwah di jalur Sungai Bengawan Solo bersama dengan Kiai Januddin Guyangan yang melakukan ekspansi dakwah ke Rajekwesi.

Dalam Manuskrip Padangan yang ditulis oleh Syekh Abdurrohman Klotok, disebutkan bahwa Nyai Ireng merupakan anak terakhir dari Kiai Januddin Guyangan. Sedangkan Kiai Januddin Guyangan sendiri merupakan ulama besar dari Kasepuhan Padangan yang melakukan misi dakwah di jalur Bengawan Solo pada abad ke-18.

Nyai Ireng menetap di Pengkol (kini dikenal sebagai Tambangan Pengkol Sungai Bengawan Solo) di Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Metode dakwah melalui seni yang dilakukan oleh Nyai Ireng melalui pertunjukan Kentrung masih dijaga kelestariannya hingga saat ini.

Pementasan Kentrung Pengkol menjadi cikal bakal Kentrung Bate. Dalam pertunjukan Kentrung, biasanya seorang perempuan menjadi dalang atau pengarah acara. Alat musik Kentrung yang digunakan dalam pertunjukan masih tersimpan di kompleks makam sebagai salah satu pusaka peninggalan Mbah Andongsari.

Sebagai gambaran cerita seorang gadis yang sedang belajar ilmu agama melalui pertunjukan Kentrung sebagai Prawan Shunti, tokoh Nyai Ireng tersirat melalui medium seni ini, menurut Oky Dwicahyo, seorang pelaku seni di Bojonegoro.

Source link

berita terkait

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Berita Terbaru